0
Dikirim pada 01 Agustus 2010 di Bekal Ramadhan

Hai orang-orang yang beriman di wajibkan atas kamu berpuasa sebagai mana di wajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah:183)

 Waktu terus berjalan, bulan demi bulan kita lewati hingga sampai di sayyaidul syahr, bulan Ramadhan, siang dan malam yang silih bergantian mengantarkan kita pada pijakan sepuluh hari terakhir menjalankan ibadah di bulan penuh kemulyaan. Limpahan puji syukur selayaknya kita panjatkan kepada Tuhan semesta alam atas segala kemikmatan yang telah di berikan kepada kita, khususnya nikmat bertemu kembali dengan bulan Ramadhan.

 Pada tiap bulan Ramadhan ayat di atas merupakan ayat populer yang sering di bacakan  dan kita dengar. Baik di media cetak, elektronik ataupun perantara lainnya. Adapun esensi dari ayat tersebut ialah  menginformasikan kepada kita bahwa ketakwaan merupakan terminal utama disyari’atkannya berpuasa.

 Bulan Ramadhan merupakan madrasah yang di dalamnya kita dididik berpuasa satu bulan penuh menahan lapar dan dahaga serta hal-hal yang membatalkan puasa dan mengurangi nilai-nilai puasa kita. Puasa merupakan perisai diri kita agar kita tidak terjerumus pada hal-hal yang beretentangan dengan agama. Dengan begitu  puasa dapat berfungsi sebagai pembentuk pribadi muslim yang selalu merasa bahwa Allah swt selalu mengawasi gerak gerik setiap langkahnya.

Betapa banyak orang yang berpusa namun ia hanya memperoleh rasa lapar dan haus dari puasanya. Mereka hanya menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Sementara mereka mengabaikan nilai-nilai dari puasa itu sendiri. Mereka rusak puasa tersebut dengan melakukan hal-hal tercela seperti berkata dusta, menggunjing, namimah (memprovokasi atau adu domba) dan perbuatan tercela lainnya. Secara syar’i  puasa mereka sah. Namun puasa yang mereka lakukan tidak berbekas pada diri mereka selain rasa lapar dan dahaga yang mereka pertahankan.  Sabda Rasulullah saw:

 “Banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR.Ibnu Majah).

 Berbeda halnya dengan orang-orang yang berpuasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan.yang semata-mata mengharapkan keridhaan Allah swt. Maka puasa yang mereka lakukan akan mengantarkan mereka pada kemenangan yang hakiki, Kemenangan spiritual sebagai insan yang bertakwa yang selalu berusaha membawa dirinya menuju arah yang lebih baik dalam menggapai keridhaan Allah swt. Kemenangan emosional dengan menanamkan rasa empati terhadap sesama serta pendidikan untuk menahan hawa nafsu dan  mengedepankan kesabaran, Di sisi lain, kemenangan intelektual pun  tercipta setelah adanya keseimbangan antara spiritual dan emosional. Sehingga tercerminlah orang-orang yang berilmu dan beramal.dan menjadikan puasa sebagai perisai mereka dari siksa api neraka. Rasulullah saw bersabda:

 “Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah swt, maka akan di ampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR.Muttafaq ‘alaih).

 Sebagai madrasah, puasa Ramadhan juga mendidik kita untuk berlomba-lomba memperbanyak amal ibadah baik secara mahdhah (vertikal), yaitu hubungan hamba dengan Tuhannya yang berbentuk rutinitas sholat wajib, tadarus Al Quran dan menghidupkan malam dengan Qimaul lail (sholat tarawih, hajat maupun tahajjud). Ataupun secara ghoiru mahdhah (horizontal), yaitu hubungan antar sesama makhluk  dengan memperbanyak amal sosial seperti sedekah, interaksi positif antar sesama manusia, bekerjasama dalam suatu pekerjaan  dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan dalam bulan Ramadhan segala amal ibadah manusia dilipat gandakan pahalanya oleh Allah swt. Di lain itu, dengan adanya ketaatan akan perintah-Nya, hal ini tentunya bisa menjadi bukti akan ketakwaan seseorang Tuhannya.  

 Takwa ialah predikat yang akan diraih dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Timbulah pertanyaan, mengapa predikat takwa yang kita raih dalam melaksanakan ibadah ini?.

 Telah merupakan sunnatullah bahwa manusia di ilhami oleh dua kekuatan kebaikan (takwa) dan keburukan (fujur). Sebagaimana Allah telah berfirman Al quran:

Dan jiwa serta penyempurnaanya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS.Al syams:7-10).

Substansi ayat di atas menerangkan bahwa ketakwaan yang di pupuk secara terus menerus  akan meningkatkan kualitas seseorang sehingga ia  akan dapat menjaga kesucian jiwanya dari segala yang mengotorinya yang berupa keburukan (fujur). Di sinilah peranan takwa yang merupakan buah dari apa yang kita tanam selama tiga puluh hari menggapai kemenangan Ramadhan. Di samping itu konsekuensi dari ketakwaan ialah kemuliaan di sisi Allah swt sebagai mana dalam firman-Nya yang berbunyi:

 ”Inna akramakum ‘indaAllahi attqakum”

 “sesungguhnya orang-orang yang paling mulia di antara  kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa”. (QS. Al Hujurat:13).

 Bertolak dari sinilah bahwa ketakwaan kita harus selalu di pupuk dan di tingakatkan yang mana salah satunya ialah melalui puasa Ramadhan. Aktualisasi takwa akan dapat menjadikan motivator bagi kita dalam menghadapi segala problematika kehidupan sebagaimana firman Allah swt:

 “Wa man nyataqillaha yaj’alahu makhraja. Wa yar juquhu min haytsu la yah tasib wa man yattawakal ‘alallahi fa huwa hasbuh. Innallaha baalighu amrih qad jaala Allahu likulli syaiin qadra.”

"Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya DIA akan menjadikan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tak di sangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluaan)nya. Seseungguhnya Allah melaksanakan urusan yang di (kehendaki)Nya. Sesunggunya Allah telah mengadakan ketentuaan bagi segala sesuatau)" .(QS.At thalaq:2-3)

 Akhirnya dengan menjalankan ibadah Ramadhan, semoga kita semua termasuk orang-orang yang mendapat predikat takwa. Ketakwaan yang mampu mengantarkan kita memperoleh keridhaan-Nya. Ketakwaan yang mampu menancapkan posisi kita menjadi hamba yang mulia di sisi-Nya. Dan yang lebih penting, ketakwaan yang bisa kita pertahankan selama-lamanya.

 Sesungguhnya kita berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini merupakan tabungan yang akan mengantarkan kita menuju kebahagiaan yang hakiki.

 Wallahu a’lam bishawab.

http://www.ppimaroko.org/index.php?option=com_content&view=article&id=70:ramadhan-madrasah-pembentuk-pribadi-takwa&catid=58:sayyidul-ayyaam&Itemid=88



Dikirim pada 01 Agustus 2010 di Bekal Ramadhan
comments powered by Disqus


connect with ABATASA